
Jakarta – Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (UNSURYA) turut berpartisipasi dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Yayasan Adi Upaya (YASAU) Tahun 2026 dengan memaparkan strategi penguatan ekosistem Approved Maintenance Training Organization (AMTO) sebagai upaya mendukung peningkatan kualitas pendidikan vokasi dirgantara di lingkungan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) YASAU.
Dalam pemaparannya, Yoga Yulasmana dari Fakultas Teknik Universitas Nurtanio Bandung menyampaikan bahwa pengembangan AMTO tidak hanya dipandang sebagai program teknis di masing-masing perguruan tinggi, tetapi harus menjadi bagian dari strategi besar YASAU dalam memperkuat identitas pendidikan dirgantara nasional.
Salah satu usulan utama yang disampaikan adalah menjadikan Universitas Adisutjipto Maintenance Training Center (UAMTC) sebagai Shared Capability Hub atau pusat kapabilitas bersama bagi seluruh AMTO di bawah naungan YASAU. Dengan konsep tersebut, fasilitas pelatihan, instruktur, examiner, training aid, hingga sistem dokumentasi dapat dimanfaatkan secara bersama sehingga setiap perguruan tinggi tidak perlu melakukan investasi besar untuk membangun seluruh kemampuan secara mandiri.
Selain meningkatkan efisiensi investasi, konsep ini diharapkan mampu mempercepat kesiapan setiap AMTO dalam memenuhi standar regulasi serta memperluas kategori pelatihan yang dapat diakses oleh mahasiswa maupun tenaga teknis penerbangan.
Dalam forum tersebut juga diusulkan pembentukan YASAU AMTO Steering Committee sebagai wadah koordinasi resmi yang melibatkan YASAU, UAMTC, dan seluruh AMTO di lingkungan PTS YASAU. Forum ini diharapkan mampu menyusun roadmap pengembangan, memetakan kapabilitas masing-masing institusi, menetapkan prioritas program, mengatur pembagian peran, hingga melakukan evaluasi terhadap implementasi pengembangan AMTO secara berkelanjutan.
Melalui mekanisme tersebut, setiap perguruan tinggi dapat saling melengkapi kompetensi. PTS yang telah memiliki sebagian kategori pelatihan dapat memanfaatkan fasilitas UAMTC untuk kategori lainnya, sementara institusi yang belum memiliki Certificate of Approval AMTO dapat mengirimkan peserta untuk mengikuti pelatihan penuh sambil mempersiapkan pengembangan internal secara bertahap.
Rakor juga membahas pentingnya dukungan pembiayaan dari YASAU melalui skema pendanaan internal tanpa bunga untuk mendukung penguatan AMTO, baik dalam bentuk Capital Expenditure (CapEx) maupun Operating Expenditure (OpEx). Skema tersebut diharapkan dapat membantu pembangunan fasilitas strategis, penguatan sumber daya manusia, pelaksanaan audit, serta peningkatan kualitas operasional AMTO secara berkelanjutan.
Bagi UNSURYA, hasil Rakor YASAU 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antar-perguruan tinggi di bawah YASAU sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dirgantara. Kolaborasi yang terintegrasi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi tinggi, siap memenuhi kebutuhan industri penerbangan nasional maupun internasional, serta mendukung terwujudnya ekosistem pendidikan dirgantara yang unggul, efisien, dan berdaya saing global.