Sila Kelima di Meja Takjil yang Mahal
Sila Kelima di Meja Takjil yang Mahal
Fri, 6 March 2026 2:25
Wakil Rektor III
wha5
Oleh : Dr. Agus Purwo

Setiap Ramadhan, wajah kota berubah. Jalanan menjelang magrib dipenuhi pedagang takjil, restoran ramai oleh reservasi buka puasa bersama, dan media sosial dibanjiri foto hidangan berbuka yang menggoda selera. Di satu sisi, ini adalah ekspresi kegembiraan menyambut bulan suci. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang mengusik: ketika meja takjil semakin mahal dan eksklusif, di manakah posisi Sila Kelima Pancasila—“Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”?

Puasa, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, bertujuan membentuk ketakwaan: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Takwa bukan hanya kesalehan ritual, tetapi kesadaran moral yang membuahkan kepedulian sosial. Lapar dan dahaga adalah sarana untuk merasakan penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan. Namun jika Ramadhan justru menjadi musim konsumsi berlebihan, maka makna takwa perlu kita pertanyakan kembali.

Fenomena “takjil premium” dan paket buka puasa dengan harga fantastis menggambarkan paradoks tersebut. Di satu meja, makanan melimpah hingga tak tersentuh semua; di sisi lain, masih ada keluarga yang harus menghitung uang receh untuk membeli sebungkus nasi. Ketimpangan ini bukan sekadar soal selera atau gaya hidup, melainkan cerminan struktur sosial yang belum adil. Sila Kelima menuntut distribusi kesejahteraan yang lebih merata, bukan sekadar kemakmuran segelintir orang.

Al-Qur’an memberi peringatan keras terhadap sikap berlebih-lebihan. Dalam Surah Al-A’raf ayat 31 Allah berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini sangat relevan dalam konteks Ramadhan. Berbuka adalah nikmat, tetapi ketika ia berubah menjadi ajang pamer kemewahan, maka semangat kesederhanaan yang diajarkan puasa memudar.

Lebih jauh lagi, Surah Al-Ma’un ayat 1–3 menegaskan: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3). Agama diukur dari keberpihakan pada yang lemah. Jika meja takjil kita mewah, tetapi tetangga sekitar tidak mampu membeli makanan berbuka, maka kita perlu merenungkan ulang kualitas keberagamaan kita.

Rasulullah memberi teladan kesederhanaan yang luar biasa. Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa beliau sering berbuka hanya dengan beberapa butir kurma dan air (HR. Muslim No. 1097). Kesederhanaan ini bukan karena ketidakmampuan, tetapi karena pilihan hidup yang berpihak pada nilai. Nabi memahami bahwa puasa adalah latihan pengendalian diri, bukan legitimasi untuk melampiaskan nafsu konsumsi di waktu berbuka.

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda: “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman). Hadis ini mengguncang nurani. Keimanan dikaitkan langsung dengan kepedulian sosial. Maka, meja takjil yang mahal tidak menjadi masalah jika diiringi dengan kepedulian terhadap sekitar. Yang menjadi persoalan adalah ketika kemewahan itu berdiri di atas ketidakpedulian.

Sila Kelima Pancasila bukan sekadar slogan konstitusional. Ia adalah cita-cita moral bangsa. Keadilan sosial berarti setiap warga negara memiliki akses terhadap kebutuhan dasar: pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Dalam konteks Ramadhan, keadilan sosial bisa dimaknai sebagai komitmen kolektif untuk memastikan tidak ada yang terpinggirkan dalam kegembiraan bulan suci.

Kesenjangan ekonomi yang tampak di bulan Ramadhan seringkali diperparah oleh praktik ekonomi yang tidak etis: penimbunan bahan pokok, kenaikan harga tanpa alasan, dan spekulasi pasar. Padahal Al-Qur’an dengan tegas melarang kecurangan dalam transaksi. Dalam Surah Al-Mutaffifin ayat 1–3 disebutkan: “Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Mutaffifin: 1–3). Spirit ayat ini menuntut kejujuran ekonomi, terlebih di bulan suci.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum koreksi sosial. Zakat fitrah, infak, dan sedekah adalah instrumen distribusi kekayaan yang dirancang untuk mengurangi kesenjangan. Dalam Surah At-Taubah ayat 60, Allah menjelaskan delapan golongan penerima zakat, menegaskan bahwa harta tidak boleh berputar hanya di kalangan orang kaya. Prinsip ini sejalan dengan semangat Sila Kelima: kekayaan nasional harus dinikmati secara adil.

Namun, keadilan sosial tidak cukup dengan amal karitatif sesaat. Ia memerlukan perubahan struktural dan kebijakan publik yang berpihak pada rakyat kecil. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari No. 7138; Muslim No. 1829). Para pemimpin, baik di pemerintahan maupun sektor swasta, memiliki tanggung jawab memastikan sistem ekonomi tidak eksploitatif.

Budaya konsumtif di bulan Ramadhan juga dipengaruhi oleh logika pasar yang agresif. Iklan-iklan menampilkan citra kebahagiaan melalui belanja dan kemewahan. Padahal kebahagiaan sejati dalam Islam bersumber dari keberkahan dan kebersamaan. Surah Al-Hasyr ayat 9 memuji orang-orang yang mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kesulitan. Nilai altruistik ini jarang menjadi sorotan dalam budaya populer.

Di sinilah Pancasila berfungsi sebagai penuntun etika publik. Ketuhanan Yang Maha Esa (Sila Pertama) menegaskan bahwa kehidupan berbangsa berakar pada nilai religius. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Sila Kedua) mengingatkan bahwa setiap kebijakan ekonomi harus menghormati martabat manusia. Persatuan Indonesia (Sila Ketiga) menuntut solidaritas lintas kelas sosial. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan (Sila Keempat) menegaskan pentingnya kebijakan yang berpihak pada rakyat. Dan Sila Kelima menjadi klimaks: keadilan sosial sebagai tujuan akhir.

Meja takjil yang mahal bisa menjadi simbol kesenjangan, tetapi juga bisa menjadi simbol solidaritas jika diiringi dengan komitmen berbagi. Banyak komunitas yang mengadakan buka puasa gratis, dapur umum, dan program santunan. Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa Ramadhan masih memiliki energi sosial yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan energi tersebut berkelanjutan, bukan hanya musiman.

Puasa adalah pendidikan karakter. Ia melatih kesabaran, empati, dan disiplin. Rasulullah bersabda: “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari No. 1894; Muslim No. 1151). Perisai dari apa? Dari hawa nafsu, dari kerakusan, dari egoisme. Jika setelah berpuasa kita tetap terjebak dalam gaya hidup berlebihan tanpa peduli pada ketimpangan, maka perisai itu belum berfungsi optimal.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang “Sila Kelima di Meja Takjil yang Mahal” adalah pertanyaan tentang arah moral bangsa. Apakah Ramadhan hanya menjadi festival konsumsi, ataukah ia menjadi momentum memperkuat keadilan sosial? Apakah kita puas dengan kesalehan individual, ataukah kita berani mendorong transformasi sosial?

Keadilan sosial tidak lahir dari retorika, tetapi dari tindakan nyata: kebijakan harga yang adil, distribusi zakat yang transparan, solidaritas komunitas, dan gaya hidup sederhana. Ramadhan memberi kita kesempatan emas untuk memulai perubahan itu, dimulai dari meja kita sendiri.

Mungkin solusi paling sederhana adalah kembali pada teladan Nabi: berbuka dengan cukup, berbagi dengan tulus, dan hidup dengan kesederhanaan. Ketika meja takjil tidak lagi menjadi simbol kemewahan yang eksklusif, tetapi ruang kebersamaan yang inklusif, maka Sila Kelima menemukan maknanya yang konkret.

Ramadhan akan berlalu, tetapi nilai yang ditanamkannya seharusnya tinggal. Jika setelah sebulan berpuasa kita menjadi lebih peduli, lebih adil, dan lebih sederhana, maka puasa telah berhasil. Dan ketika Sila Kelima tidak hanya terpampang di dinding ruang kelas, tetapi hadir di setiap meja takjil, di situlah agama dan Pancasila bertemu dalam praktik kehidupan nyata bangsa Indonesia.

edisi ramadhan, Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Komentar

Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Our Activities

Pada Rabu 4 Maret 2026, Fakultas Hukum Unsurya Mengadakan Workshop Penyusunan Kurikulum&RPS Berbasis Outcome Based Education (OBE)
Pada Rabu 4 Maret 2026, Fakultas Hukum #Unsurya mengadakan workshop penyusunan k...
Tue, 10 March 2026 | 9:05
Wakil Rektor III Titip Tanggungjawab, Sikap, Etika, dan Disiplin Kepada Mahasiswa yang Akan Magang.
Unsurya Jakarta (WR3/PMB-09/03/2026) – Career Development Center (CDC) Universit...
Mon, 9 March 2026 | 4:00
Sosialisasi Program Magang Jepang dan Student Exchange Taiwan & Korea di FTDI Unsurya
Fakultas Teknik Dirgantara dan Industri (FTDI) Universitas Dirgantara Marsekal S...
Thu, 5 March 2026 | 10:43
UNSURYA Gelar Kajian Peran CSR Pertamina untuk Pemberdayaan UMKM Kampus
Unsurya Jakarta (WR3/PMB-05/03/26) - Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma ...
Thu, 5 March 2026 | 9:32
15
Oct
Graduation Process

Tanggal :

15 October 2025
- 15 October 2025

Lokasi :

Puri Ardhya Garini
19
Oct
Senate Meeting

Tanggal :

19 October 2025
- 25 October 2025

Lokasi :

Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma
25
Aug
Spring Semester Seminar Process

Tanggal :

25 August 2025
- 30 August 2025

Lokasi :

Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma
11
Aug
Short Semester

Tanggal :

11 August 2025
- 30 August 2025

Lokasi :

Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma