Ramadhan dan Ujian Kejujuran Elite
Ramadhan dan Ujian Kejujuran Elite
Fri, 20 February 2026 9:04
Wakil Rektor III
1
Oleh: Dr. Agus Purwo 

Unsurya Jakarta (20/02/26) – Setiap Ramadhan datang, ruang-ruang publik dipenuhi simbol kesalehan. Masjid ramai, kajian marak, dan elite politik maupun birokrasi berlomba menampilkan wajah religius: berbagi takjil, santunan yatim, hingga safari Ramadhan. Namun di tengah suasana spiritual itu, publik tetap disuguhi berita tentang konflik kepentingan, manipulasi anggaran, suap jabatan, dan penyalahgunaan wewenang. Ramadhan pun seakan menjadi cermin besar yang memantulkan pertanyaan mendasar: sejauh mana kejujuran elite benar-benar teruji?

Puasa bukan sekadar ritual tahunan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah menegaskan tujuan puasa adalah agar manusia bertakwa. Takwa bukan hanya kesadaran spiritual, melainkan komitmen moral yang tercermin dalam kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Bagi elite—baik pejabat publik, politisi, pimpinan lembaga, maupun tokoh masyarakat—takwa seharusnya tampak dalam kebijakan yang bersih dan keputusan yang adil. Jika Ramadhan gagal memperkuat kejujuran mereka, maka puasa hanya berhenti pada aspek simbolik.

Kejujuran adalah fondasi kepemimpinan dalam Islam. Rasulullah SAW bahkan dikenal dengan gelar Al-Amin (yang terpercaya) jauh sebelum menerima wahyu. Gelar itu bukan hasil pencitraan, melainkan buah konsistensi moral. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” Pesan ini tidak mengenal pengecualian jabatan. Justru semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tuntutan kejujurannya.

Ramadhan menjadi ujian karena ia menghadirkan dua dimensi sekaligus: pengawasan publik dan pengawasan ilahi. Secara sosial, masyarakat menaruh harapan lebih besar kepada elite pada bulan suci. Secara spiritual, puasa melatih kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui, bahkan terhadap niat yang tersembunyi. Surah Al-Mulk ayat 14 menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang halus dan tersembunyi. Jika kesadaran ini benar-benar hidup, maka kebohongan dan manipulasi akan terasa sebagai pengkhianatan ganda—kepada rakyat dan kepada Tuhan.

Namun realitas menunjukkan paradoks. Ada elite yang rajin beribadah, tetapi tetap terjerat kasus ketidakjujuran. Fenomena ini mengingatkan pada hadis riwayat Ibnu Majah: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.” Hadis tersebut mengandung kritik tajam terhadap ibadah yang tidak membuahkan perubahan akhlak. Kejujuran bukan aksesori tambahan dalam kepemimpinan; ia adalah inti.

Dalam perspektif Al-Qur’an, kebohongan dan pengkhianatan amanah termasuk dosa besar. Surah Al-Anfal ayat 27 melarang orang beriman mengkhianati Allah dan Rasul serta amanah yang dipercayakan. Jabatan publik adalah amanah. Anggaran negara adalah amanah. Kepercayaan rakyat adalah amanah. Ketika elite memanipulasi data, menutup-nutupi kebenaran, atau menyalahgunakan kekuasaan, mereka bukan hanya melanggar hukum negara, tetapi juga melanggar perintah agama.

Di sinilah Pancasila memberikan landasan etis yang sejalan dengan ajaran Islam. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menuntut keselarasan antara iman dan perilaku. Ketuhanan tidak berhenti pada retorika religius. Ia harus mewujud dalam kejujuran kebijakan dan transparansi pengelolaan kekuasaan. Elite yang mengaku beriman tetapi tidak jujur berarti belum menempatkan nilai ketuhanan sebagai kompas moral.

Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, juga mengandung dimensi kejujuran. Ketidakjujuran elite berdampak langsung pada penderitaan rakyat. Manipulasi anggaran pendidikan, misalnya, merugikan anak-anak yang seharusnya mendapat akses belajar layak. Kebohongan dalam laporan pembangunan menghambat kesejahteraan masyarakat. Kejujuran bukan sekadar soal reputasi pribadi, melainkan soal kemanusiaan dan martabat bangsa.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, terancam ketika kepercayaan publik terkikis akibat perilaku tidak jujur. Kepercayaan adalah perekat sosial. Jika rakyat merasa dibohongi, rasa persatuan melemah dan sinisme tumbuh. Ramadhan, dengan semangat ukhuwah dan solidaritasnya, semestinya memperkuat ikatan itu. Namun solidaritas hanya akan kokoh jika dibangun di atas kejujuran.

Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, menuntut proses pengambilan keputusan yang transparan dan bertanggung jawab. Musyawarah tanpa kejujuran hanyalah formalitas. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim ditegaskan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Pertanggungjawaban itu bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah.

Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, mustahil terwujud tanpa integritas elite. Keadilan membutuhkan data yang benar, kebijakan yang jujur, dan distribusi sumber daya yang transparan. Jika laporan dimanipulasi atau keputusan diwarnai kepentingan tersembunyi, maka keadilan berubah menjadi slogan kosong. Ramadhan seharusnya menjadi momentum memperkuat komitmen terhadap keadilan sosial.

Mengapa kejujuran menjadi ujian paling berat bagi elite? Karena kekuasaan membuka ruang godaan yang besar. Akses terhadap sumber daya, jaringan, dan pengaruh sering kali menggoda untuk disalahgunakan. Puasa hadir sebagai latihan pengendalian diri. Jika seseorang mampu menahan diri dari yang halal demi ketaatan, seharusnya ia lebih mampu menahan diri dari yang haram. Logika spiritual ini seharusnya berlaku universal.

Puasa juga mengajarkan konsistensi antara yang tampak dan yang tersembunyi. Seseorang bisa saja berpura-pura berpuasa di hadapan manusia, tetapi ia tahu bahwa Allah mengetahui kebenarannya. Dimensi batin inilah yang menjadi fondasi integritas. Kejujuran sejati lahir ketika seseorang berani benar meski tidak diawasi. Bagi elite, integritas seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar citra publik.

Tantangan lain adalah budaya politik yang kadang permisif terhadap ketidakjujuran. Kebohongan dianggap strategi, manipulasi disebut taktik, dan kompromi etika dianggap kelaziman. Dalam situasi seperti itu, Ramadhan seharusnya menjadi momen koreksi. Surah At-Taubah ayat 119 memerintahkan orang beriman untuk bersama orang-orang yang jujur. Artinya, kejujuran harus menjadi kultur kolektif, bukan pilihan individu semata.

Pendidikan moral berbasis agama dan Pancasila perlu diperkuat, terutama bagi calon pemimpin. Integritas tidak lahir secara instan ketika seseorang menduduki jabatan tinggi. Ia dibentuk melalui pembiasaan dan keteladanan. Rasulullah membangun masyarakat Madinah dengan fondasi akhlak dan amanah. Kepemimpinan beliau tidak hanya efektif secara politik, tetapi juga bersih secara moral.

Ramadhan dapat menjadi ruang refleksi nasional bagi elite. Apakah laporan yang disampaikan kepada publik sudah sesuai fakta? Apakah kebijakan yang dibuat benar-benar berpihak pada rakyat? Apakah keputusan diambil dengan niat tulus atau demi kepentingan sempit? Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya menggema lebih keras di bulan suci.

Kejujuran elite bukan hanya kebutuhan moral, tetapi juga kebutuhan strategis bangsa. Negara yang dipimpin oleh orang-orang jujur akan lebih stabil, dipercaya investor, dan dihormati dunia internasional. Sebaliknya, ketidakjujuran menciptakan ketidakpastian dan merusak reputasi nasional. Dalam jangka panjang, integritas adalah modal pembangunan.

Masyarakat pun memiliki peran penting. Budaya kritis dan partisipatif harus terus dijaga. Ramadhan bukan alasan untuk menunda pengawasan publik. Justru di bulan suci, suara moral masyarakat harus semakin kuat. Kritik yang konstruktif adalah bentuk kepedulian terhadap bangsa.

Pada akhirnya, “Ramadhan dan Ujian Kejujuran Elite” bukan sekadar judul, melainkan realitas yang terus kita hadapi. Puasa menawarkan kesempatan memperbaiki diri, termasuk bagi mereka yang memegang kekuasaan. Jika nilai Al-Qur’an, hadis, dan Pancasila benar-benar dihayati, maka kejujuran akan menjadi karakter, bukan sekadar slogan.

Ramadhan seharusnya melahirkan elite yang tidak hanya pandai berpidato tentang moralitas, tetapi juga berani mempraktikkannya. Kejujuran adalah jembatan antara iman dan kebijakan, antara ibadah dan tata kelola negara. Tanpa kejujuran, Ramadhan hanya menjadi seremoni tahunan. Dengan kejujuran, Ramadhan bisa menjadi titik balik peradaban bangsa.

edisi ramadhan, spesial ramadhan

Komentar

Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Our Activities

Bulan Suci dan Politik Pencitraan
[caption id="attachment_9327" align="alignleft" width="150"] Oleh: Dr. Agus Purw...
Tue, 24 February 2026 | 2:56
Penetapan dan Serah Terima Jabatan Ketua dan Pengurus Himpunan Mahasiswa FTDI Periode 2026 Disertai Workshop Program Kerja
Fakultas Teknologi Dirgantara dan Industri (FTDI) Universitas Dirgantara Marseka...
Tue, 24 February 2026 | 11:49
Menahan Lapar, Gagal Menahan Serakah.
[caption id="attachment_9327" align="alignleft" width="150"] Oleh: Dr. Agus Purw...
Mon, 23 February 2026 | 3:43
Puasa, Tapi Korupsi Jalan Terus?
Unsurya Jakarta, (19/02/26). Setiap Ramadhan, jutaan umat Islam di Indonesia men...
Thu, 19 February 2026 | 7:37
15
Oct
Graduation Process

Tanggal :

15 October 2025
- 15 October 2025

Lokasi :

Puri Ardhya Garini
19
Oct
Senate Meeting

Tanggal :

19 October 2025
- 25 October 2025

Lokasi :

Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma
25
Aug
Spring Semester Seminar Process

Tanggal :

25 August 2025
- 30 August 2025

Lokasi :

Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma
11
Aug
Short Semester

Tanggal :

11 August 2025
- 30 August 2025

Lokasi :

Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma