Ramadhan di Bawah Bayang-Bayang Hoaks
Ramadhan di Bawah Bayang-Bayang Hoaks
Wed, 25 February 2026 9:24
Wakil Rektor III
Picture1
Oleh: Dr. Agus Purwo

Unsurya Jakarta, 25/02/26 (7 Ramadhan 1447H). Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang dinanti. Ia membawa suasana spiritual yang khas: masjid-masjid ramai, lantunan ayat suci menggema, dan semangat berbagi terasa lebih kuat. Namun di era digital, bulan suci ini juga menghadapi tantangan baru: derasnya arus informasi yang tak selalu benar. Di tengah kekhusyukan ibadah, hoaks menyelinap melalui gawai, membelah percakapan keluarga, memecah komunitas, bahkan mengganggu persatuan bangsa. Ramadhan yang seharusnya menjadi ruang penyucian jiwa justru sering berada di bawah bayang-bayang informasi palsu.

Fenomena hoaks bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan persoalan moral dan spiritual. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahaya berita bohong. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah berfirman agar orang beriman memeriksa dengan teliti setiap berita yang datang dari orang fasik, agar tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena ketidaktahuan yang berujung penyesalan. Ayat ini menunjukkan bahwa verifikasi informasi bukan sekadar etika sosial modern, tetapi perintah ilahiah yang telah ditegaskan sejak berabad-abad lalu.

Ramadhan, sebagai bulan turunnya Al-Qur’an (Al-Baqarah: 185), semestinya menjadi momentum menguatkan komitmen terhadap kebenaran. Jika Al-Qur’an disebut sebagai petunjuk bagi manusia, maka menyebarkan hoaks jelas bertentangan dengan semangat petunjuk tersebut. Hoaks menciptakan kebingungan, kecurigaan, dan permusuhan—nilai-nilai yang berlawanan dengan tujuan puasa, yakni membentuk pribadi yang bertakwa.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa cukuplah seseorang disebut pendusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar. Pesan ini sangat relevan di era media sosial. Tombol “bagikan” sering kali ditekan tanpa proses tabayyun (klarifikasi). Banyak orang merasa sekadar menjadi perantara, padahal setiap distribusi informasi membawa konsekuensi moral. Dalam konteks Ramadhan, ketika pahala dilipatgandakan, dosa akibat kebohongan pun tidak bisa dianggap remeh.

Hoaks di bulan Ramadhan sering mengambil bentuk yang religius: pesan berantai tentang keutamaan ibadah tertentu tanpa dasar yang jelas, informasi palsu tentang kebijakan pemerintah yang memicu kemarahan, hingga narasi provokatif yang mengatasnamakan agama. Ada pula kabar sensasional tentang tokoh tertentu yang dirancang untuk menggiring opini. Semua ini menyebar cepat karena dikemas dengan sentimen keagamaan, yang secara psikologis mudah menyentuh emosi umat.

Padahal, Al-Qur’an juga memperingatkan dalam Surah An-Nur ayat 15–16 tentang bahaya menyebarkan berita bohong tanpa ilmu, dan menganggapnya sebagai perkara ringan padahal besar di sisi Allah. Ayat ini turun dalam konteks fitnah yang menimpa keluarga Nabi, namun pesannya universal: reputasi, kehormatan, dan persatuan bisa hancur oleh kabar yang tak diverifikasi. Dalam konteks kekinian, satu unggahan viral dapat merusak hubungan sosial yang dibangun bertahun-tahun.

Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan lisan dan tindakan dari hal-hal yang merusak. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. Hadis ini menegaskan bahwa esensi puasa terletak pada transformasi moral. Menyebarkan hoaks jelas termasuk dalam kategori perkataan dusta yang menggerogoti nilai puasa.

Di sinilah Pancasila menjadi kerangka kebangsaan yang relevan. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menuntut integritas dan kejujuran sebagai wujud keimanan dalam kehidupan publik. Ketika seseorang menyebarkan hoaks atas nama agama, ia bukan hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga mencederai nilai ketuhanan itu sendiri. Ketuhanan dalam Pancasila bukan simbol formal, melainkan landasan etika dalam berinteraksi.

Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, mengharuskan setiap warga memperlakukan orang lain dengan hormat dan adil. Hoaks sering kali merendahkan martabat orang lain, menyebarkan tuduhan tanpa bukti, atau memicu perundungan massal. Dalam perspektif kemanusiaan yang beradab, setiap individu berhak atas reputasi yang baik dan perlindungan dari fitnah. Menyebarkan kabar palsu berarti melanggar prinsip keadaban.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi sangat rentan di era disinformasi. Hoaks kerap dirancang untuk memperuncing perbedaan suku, agama, ras, dan pilihan politik. Di bulan Ramadhan, ketika sentimen religius menguat, provokasi berbasis agama dapat dengan cepat membelah masyarakat. Persatuan yang dibangun dengan susah payah bisa runtuh oleh narasi yang manipulatif. Oleh karena itu, menjaga kebenaran informasi adalah bagian dari menjaga persatuan bangsa.

Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, menuntut kualitas deliberasi publik yang sehat. Demokrasi membutuhkan warga yang rasional dan informatif. Jika ruang publik dipenuhi hoaks, maka keputusan kolektif pun terdistorsi. Kebijakan bisa ditolak atau didukung bukan karena substansinya, melainkan karena informasi yang menyesatkan. Ramadhan seharusnya menjadi waktu refleksi, bukan waktu memperkeruh diskursus publik.

Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, juga berkaitan erat dengan ekosistem informasi. Hoaks sering kali merugikan kelompok tertentu, menciptakan stigma, atau memicu ketidakadilan sosial. Misalnya, informasi palsu tentang suatu komunitas dapat menghambat akses mereka terhadap kesempatan ekonomi atau sosial. Dalam konteks keadilan sosial, setiap informasi harus diperlakukan dengan tanggung jawab karena dampaknya bisa luas dan sistemik.

Selain dimensi normatif, ada pula dimensi psikologis dan spiritual. Hoaks bekerja dengan memanfaatkan emosi: marah, takut, atau fanatisme. Puasa justru melatih pengendalian emosi. Ketika seseorang tergoda untuk segera membagikan informasi yang memicu kemarahan, di situlah ujian puasa terjadi. Apakah ia mampu menahan dorongan impulsif demi kebenaran? Ataukah ia menyerah pada sensasi sesaat?

Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang sangat berhati-hati dalam menyampaikan informasi. Dalam banyak riwayat, beliau mengajarkan pentingnya tabayyun dan larangan menyakiti sesama dengan ucapan. Bahkan dalam situasi konflik, beliau memilih klarifikasi dan dialog daripada asumsi. Teladan ini relevan bagi masyarakat digital: sebelum membagikan, periksa sumber; sebelum mempercayai, cari konfirmasi; sebelum bereaksi, kendalikan emosi.

Peran keluarga dan institusi pendidikan juga krusial. Ramadhan sering menjadi momen berkumpul dan berdiskusi. Ini bisa menjadi kesempatan menanamkan literasi digital berbasis nilai agama dan Pancasila. Anak-anak dan remaja perlu diajarkan bahwa tidak semua pesan berantai benar, tidak semua video viral autentik, dan tidak semua narasi provokatif layak dipercaya. Pendidikan moral harus berjalan seiring dengan pendidikan teknologi.

Media dan tokoh publik pun memikul tanggung jawab besar. Mereka memiliki jangkauan luas yang dapat memperkuat atau meredam hoaks. Di bulan Ramadhan, pesan-pesan yang menyejukkan, klarifikasi yang cepat, dan komitmen pada fakta sangat dibutuhkan. Kepemimpinan moral terlihat bukan hanya dalam ceramah atau unggahan religius, tetapi dalam konsistensi menjaga kebenaran.

Pada akhirnya, Ramadhan di bawah bayang-bayang hoaks adalah cermin tantangan zaman. Teknologi tidak bisa dihindari, tetapi nilai bisa diperkuat. Al-Qur’an telah memberikan prinsip tabayyun, hadis telah mengingatkan bahaya dusta, dan Pancasila telah menyediakan kerangka etis kebangsaan. Tugas kita adalah menghidupkan nilai-nilai itu dalam praktik sehari-hari.

Jika puasa benar-benar membentuk ketakwaan, maka ia akan tercermin dalam sikap hati-hati terhadap informasi. Jika Ketuhanan Yang Maha Esa benar-benar dihayati, maka kejujuran menjadi fondasi interaksi. Jika Persatuan Indonesia benar-benar dijaga, maka setiap warga akan berpikir dua kali sebelum menyebarkan kabar yang berpotensi memecah belah.

Ramadhan seharusnya menjadi bulan cahaya, bukan bulan kabut disinformasi. Di tengah derasnya arus digital, setiap individu adalah penjaga gerbang informasi. Dengan menahan diri dari menyebarkan hoaks, kita tidak hanya menjaga pahala puasa, tetapi juga menjaga martabat kemanusiaan dan keutuhan bangsa. Di situlah spiritualitas dan kebangsaan bertemu: dalam komitmen pada kebenaran.

edisi ramadhan, Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Komentar

Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Our Activities

Fikes Unsurya Suarakan Aksi "Stop Bullying Now": Ilmu Tanpa Empati Adalah Kekerasan
JAKARTA – Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Dirgantara Marsekal Suryad...
Tue, 3 March 2026 | 10:36
Bulan Suci dan Politik Pencitraan
[caption id="attachment_9327" align="alignleft" width="150"] Oleh: Dr. Agus Purw...
Tue, 24 February 2026 | 2:56
FTDI UNSURYA Bahas Dukungan Teknologi Kedirgantaraan untuk Program Transmigrasi Bersama Menteri Transmigrasi
Jakarta, 23 Februari 2026 – Pusat Studi Rancang Bangun Pesawat Terbang dan Keant...
Tue, 24 February 2026 | 2:13
Menahan Lapar, Gagal Menahan Serakah.
[caption id="attachment_9327" align="alignleft" width="150"] Oleh: Dr. Agus Purw...
Mon, 23 February 2026 | 3:43
15
Oct
Graduation Process

Tanggal :

15 October 2025
- 15 October 2025

Lokasi :

Puri Ardhya Garini
19
Oct
Senate Meeting

Tanggal :

19 October 2025
- 25 October 2025

Lokasi :

Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma
25
Aug
Spring Semester Seminar Process

Tanggal :

25 August 2025
- 30 August 2025

Lokasi :

Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma
11
Aug
Short Semester

Tanggal :

11 August 2025
- 30 August 2025

Lokasi :

Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma